Selasa, 09 Oktober 2012

Berbicara Sesuai Konteks


Konteks adalah gagasan yang digunakan dalam ilmu bahasa (linguistik, sosiolinguistik, linguistik fungsional sistemik, analisis wacana, pragmatik, semiotika, dll) dalam dua cara yang berbeda, yaitu sebagai berikut :

* Lisan konteks
* Konteks sosial

Konteks verbal
Konteks verbal mengacu pada teks sekitarnya atau berbicara dari sebuah ekspresi (kata, kalimat, percakapan gilirannya, tindak tutur, dll). Idenya adalah bahwa konteks lisan mempengaruhi cara kita memahami ekspresi. Oleh karena itu norma untuk tidak mengutip orang keluar dari konteks. Karena linguistik kontemporer banyak mengambil teks, wacana atau pembicaraan sebagai objek analisis, studi modern konteks lisan terjadi dalam hal analisis struktur wacana dan hubungan timbal balik mereka, misalnya hubungan koherensi antara kalimat.
Konteks sosial
Secara tradisional, dalam sosiolinguistik, konteks sosial didefinisikan dalam istilah variabel sosial obyektif, seperti kelas, gender atau ras. Baru-baru ini, konteks sosial cenderung didefinisikan dari segi identitas sosial yang ditafsirkan dan ditampilkan dalam teks dan berbicara oleh pengguna bahasa
Teori Multidisiplin
Dalam teori baru multidisiplin tentang konteks, Teun A. van Dijk menolak konsep objektivis dari konteks sosial dan menunjukkan bahwa sifat relevan dari situasi sosial hanya dapat mempengaruhi menggunakan bahasa sebagai definisi situasi subjektif oleh peserta, seperti yang diwakili dan ongoingly diperbarui dalam mental yang spesifik model pengguna bahasa: model konteks.

Pengaruh
Pengaruh parameter konteks pada penggunaan bahasa atau wacana biasanya dipelajari dalam hal bahasa, gaya variasi atau mendaftar (lihat Gaya). Asumsi dasar di sini adalah bahwa pengguna bahasa beradaptasi sifat penggunaan bahasa mereka (seperti intonasi, pilihan leksikal, sintaks, dan aspek lain dari formulasi) dengan situasi komunikatif saat ini. Dalam hal ini, menggunakan bahasa atau wacana dapat disebut lebih atau kurang 'tepat' dalam konteks tertentu. Ini adalah istilah bahasa atau derigitave sekitarnya mengatur paragraf, novel atau artikel. Sebuah tindakan dialog tindak tutur khusus. Sebagai contoh, Pertanyaan adalah tindak tutur, tetapi Question_on_hotel adalah tindakan dialog. Dialog tindakan yang berbeda dalam sistem dialog yang berbeda. Jumlah tindak wicara yang umum dikenal, dan stabil sekitar 10 atau lebih, jumlah tindak dialog bervariasi dari sistem ke sistem. Dalam beberapa sistem, jumlah tindak dialog dapat sampai dengan 40.

Jelaslah bahwa berkomunikasi dalam bahasa yang sesuai dengan lawan bicara, adalah syarat penting demi tercapainya tujuan komunikasi. Masalahnya adalah, bagaimana caranya agar kita bisa berkomunikasi dalam bahasa yang sesuai dengan lawan bicara? Tak ada rumus pasti. Semua tergantung kemauan diri untuk memahami “apa dan siapa” lawan bicara dan mencoba berbicara dalam ranah mereka. Berbicaralah menurut konteks lawan bicara! Disertai niat tulus, niscaya tujuan komunikasi pasti tercapai.

Menengok Bahasa Alay


Pergaulan generasi muda kini mengalami perubahan dari segi gaya berbahasa maupun bertingkah laku. dari yang aneh. Tidak sedikit dan tidak jarang sekali saya mendengar kata alay. apakah alay itu ? dan bagaimana kah perkembangan alay itu sendiri sehingga sempat menjadi trending topik.

Alay sendiri terbentuk dari bahasa yang tidak biasanya kita lihat dari segi penulisan, sering kita lihat dalam jejaring sosial contohnya di facebook/twitter saat mengetikan mereka identik dengan huruf yang besar - kecil, symbol, angka dan sangat tidak benar dalam penulisan dan gaya bahasa indonesia yang baik dan benar, contohnya seperti ini:
  • L491 4pz L03? ( Lagi apa kamu? )
  • L491 dmaz? ( Lagi dimana?)
  • aQ, 4k03, Q, ( AKU)
  • Qta, Kt4 ( Kita)
  • caPa, c!yaph4, sHapHA? ( Siapa )
  • ciyuuzzz, tiyuSzz ( Serius )
Bagi mereka mungkin gaya kreativitas mereka sendiri, yang menggunakan bahasa sandi mereka dalam komunitasnya.

Dalam berdandan pun kita juga bisa mencirikan mereka alay yang dengan gaya mereka yang sangat nyentrik/ tidak biasaanya orang yang seperti biasanya, mereka bergaya dengan memngikuti artis bintang film, seperti rambut diwarnai, menggunakan celana yang tidak pantas. Dan Menurut saya mereka tidak salah namun kita kadang begitu risih jika terus menerus itu menambah populasi, karena ditakutkan akan menambah bahsa indonesia semakin buruk. Tata bahasa Indonesia pada saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia khususnya para remaja, sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai kreativitas. Jika mereka tidak menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Salah satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya adalah digunakannya bahasa Alay.
Bahasa Alay secara langsung maupun tidak telah mengubah masyarakat Indonesia untuk tidak mempergunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sebaiknya bahasa Alay dipergunakan pada situasi yang tidak formal seperti ketika kita sedang berbicara dengan teman. Atau pada komunitas yang mengerti dengan sandi bahasa Alay tersebut. Kita boleh menggunakannya, akan tetapi jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia.

Senin, 08 Oktober 2012

Wisata Kuliner - Nasi Rawon


Berkunjung ke Jawa Timur khususnya Surabaya rasanya kurang afdhol kalau anda belum mencicipi masakan khas yang satu ini.

Rawon, mendengar namanya mungkin Anda akan berpikir rasa rawon yang super pedas adalah alasan rawon ini dijuluki rawon setan. Memang banyak kuliner nusantara lain yang juga menggunakan kata setan di belakang nama kuliner tersebut sebagai penekanan bahwa kuliner tersebut memiliki tingkat kepedasan tinggi. Namun hal itu tidak berlaku untuk rawon setan khas Surabaya.
Rawon Setan di tempat ini adalah rawon setan pertama yang ada di Indonesia. merupakan rawon unggulan kota Surabaya. Asal mula kata setan pada nama rawon setan diberikan masyarakat karena rawon ini dijajakan mulai pukul 22.00 WIB hingga dini hari. Karena baru mulai aktifitas berjualan pada malam hari, sama seperti setan yang baru muncul pada malam hari, maka rawon ini di beri julukan rawon setan. Kini  Rawon Setan tidak lagi dijajakan mulai pukul 22.00 WIB namun mulai pukul 07.30 hingga pukul 22.00 Wib untuk setiap hari Minggu hingga Selasa dan untuk hari Rabu hingga Sabtu buka mulai pukul 07.30 hingga 03.30 WIB. Rawon Setan Mbak Endang tidak membuka cabang  sehingga bila Anda penasaran bagaimana rasa Rawon Setan ini, datang saja ke Jl. Embong Malang Bubutan Surabaya Utara, tepatnya di seberang Hotel JW Marriot.


Satu porsi Rawon Setan berisi potongan  daging sapi dan tauge yang disiram dengan kuah berwarna hitam pekat, lalu ditaburi dengan bawang goreng. Warna hitam pekat pada kuah berasal dari salah satu bumbunya yaitu kluwak. Kuahnya  yang  mantap berpadu dengan sambal, tempe goreng , telur asin serta kerupuk udang akan menciptakan sensasi tak terlupakan. Untuk nasinya, Anda dapat memilih dicampur bersama rawon ataupun dipisah. Harga satu porsi rawon mulai dari Rp20.000,-. Keistimewaan Rawon Setan adalah potongan dagingnya yang besar-besar dan empuk.

How to get there:
  1. Angkot:  Anda dapat menggunakan angkot jurusan Darmo Permai  -  Pasar Atom  dengan kode DA, berangkat dari Jalan Raya Darmo Permai Utara .
sumber: http://kuliner.panduanwisata.com/indonesia/pulau-jawa/jawa-timur/rawon-setan-mbak-endang-kebanggaan-kota-surabaya/


INTERAKSI MANUSIA DAN KOMPUTER PRINSIP USABILITY

Prinsip Usability adalah merupakan masalah optimasi penggunaan sistem oleh pengguna, Sistem yang baik akan dipergunakan secara maksimal oleh pengguna sehingga semua kemampuan sistem dapat termanfaatkan.

Dalam Prinsip Usablity terdiri dari :
  1. Human Ability (Kemampuan Manusia)
  2. Human Capabilities
  3. Memori and Proses 
  4. Observations (Pengamatan)
  5. Problem Solving (Pemecahan Masalah)
1.  Human Ability
Human Ability adalah suatu kemampuan manusia untuk melakukan sesuatu yang dimiliknya. Human Ability memiliki 2 perbedaan yaitu :

- Kelebihan
  • Kapasitas Long Term Memory (LTM) tidak terbatas
  • Durasi LTM tidak terbatas dan complex
  • Kemampuan memahami tinggi
  • Mekanisme konsentrasi powerful
  • Pengenalan pola pikir powerful
 - Kekurangan
  • Kapasitas Short Term Memory (STM) terbatas
  • Durasi STM terbatas
  • Proses cenderung salah
  • Proses yang lambat

2. Human Capabilities
Faktor manusia ini harus diperhatikan, karena dari sinilah desain yang lebih baik didapatkan. User perlu mengetahui hal-hal berikut dalam merancang :
  • Penginderaan / Panca indra (Mata, Telinga, Peraba)
  • Proses informasi
  • Sistem Motor

Konsep penglihatan terdiri dari dua tahap :
1. Penerimaan stimulus dari luar secara fisik
2. Pemrosesan serta interpretasi dari stimulus tersebut
 
a. Kemampuan Penglihatan

-Sensivitas
Luminance : jumlah cahaya yang dipantulkan oleh permukaan objek, dengan ukuran 10-6 – 107 mL

-Ketajaman
- Visual acuity : kemampuan manusia melihat objek secara detail

-Sudut pandang (visual angle) : besarnya ruang pandang yang digunakan objek ? derajat (degree) / minutes of arc ? 1 derajat = 60 minutes of arc

-Pergerakan
Pola visual dari kata direkam : di-dekoding menurut representasi bahasa ? pemrosesan bahasa meliputi analisis sintaks dan emantik terhadap frase dan kalimat

-Mata bergerak terhadap teks : regression

-Kemampuan membaca akan berkurang atau menurun karena usia.

b. Warna
 
1. Warna dikaitkan dengan hue, intensitas, dan saturation
2. Hue : panjang gelombang spektrum cahaya
3. Intensitas : brightness dari warna
4. Saturation : jumlah / kadar putih (whiteness) dalam warna
5. Masalah persepsi warna pada cones (sel pada selaput retina yang sensitif terhadap warna) dan ganglion (simpul syaraf)
6. 380 (blue) ~ 770 nm (red)
7. Radiasi dalam spektrum (panjang gelombang cahaya) adalah 400 – 700 nm

Pendengaran (Hearing)

1. Sistem auditory memiliki kapasitas sangat besar untuk mengumpulkan informasi lingkungan sekitar.
2. Dapat mendengar objek apa saja yang ada di sekitar dan memperkirakan kemana objek tersebut akan berpindah
3. Pemrosesan suara

Suara memiliki beberapa karakteristik, yaitu :
1. Pitch : frekuensi suara (20 – 20.000 HZ)
2. Loudness : amplitudo suara (30 – 100dB)
3. Timbre : tipe atau jenis suara
4. Sistem auditory melakukan filtering suara ? kita mengabaikan suara background dan berkonsentrasi pada informasi yang penting

Peraba (Touch)
1. Manusia menerima stimuli melalui kulit. Kulit memiliki tiga jenis sensor penerima (sensory receptor), yaitu :
2. Thermoceptor yaitu merespon panas / dingin
3. Nociceptor yaitu merespon pada tekanan yang intens, rasa sakit
4. Mechanoceptor yaitu merespon pada tekanan IMK
5. Keyboard bisa dikaitkan dengan posisi-posisi bentuk tombol, juga pengoperasian yang memerlukan penekanan, ada yang berat atau malah terlalu ringan.

Proses Informasi
Proses informasi pada manusia terdiri dari 3 sistem utama :
1. Perseptual
2. Menangani sensor dari luar
3. Sebagai buffer untuk menampung masukkan yang diterima dari indera manusia
4. Diproses (diterima) untuk diteruskan ke otak (memori)
5. Kognitif : memproses hubungan keduanya
6. Sistem Motor : mengontrol aksi / respon (pergerakan, kecepatan, kekuatan)
 
3. Memory and Process
Memori menyimpan pengetahuan factual dan pengetahuan procedural
 
Terdapat 4 tipe memori :
1. Procedural Buffer (Memori sensor)
2. Terbatas kapasitasnya
3. Informasi yang masuk melalui indera tidak semua dapat diproses.
 
2. Short Term Memori

1. Memori kerja menyimpan informasi yang dibutuhkan dalam waktu yang singkat / sementara pada saat kita sedang melakukan pekerjaan.
2. Dapat diakses dengan cepat, namun berkurang secara cepat pula

Metode digunakan untuk mengukur kapasitas, yaitu berdasarkan :
a. Panjang suatu deret (sequence) yang dapat diingat secara terurut.
b. Kemampuan mengingat kembali item-item secara acak.

3. Intermediate, yaitu menyimpan untuk ke LTM
 
4. Long Term Memory (LTM)

1. Penyimpanan utama untuk informasi faktual, pengetahuan berdasarkan eksperimen / pengalaman, aturan-aturan prosedur, tingkah laku, dsb.
2. Kapasitasnya lebih besar, waktu akses yang lebih lambat serta proses hilangnya informasi lebih lambat.
 
Terdapat dua jenis LTM :
a. Memori Episodik : menyimpan “data” kejadian atau pengalaman dam bentuk serial menurut waktu.
b. Memori Semantik : menyimpan record-record fakta, konsep, keahliaan (skills) serta informasi lain yang diperoleh selama hidup dengan terstruktur.

Pemrosesan Memori Jangka Panjang
Aktivitas :
1. Menyimpan atau mengingat informasi
2. Menghilangkan atau melupakan informasi
3. Memanggil kembali informasi
4. Tersimpan karena pengulangan (rehearsal)
5. Ebbinghaus yaitu jumlah yang dipelajari berbanding lurus dengaan waktu mempelajarinya = total time hypothesis
6. Proses melupakan informasi : decay ; karena sudah lama berada di LTM sehingga lambat laun akan terlupakan + interference : karena adanya informasi baru yang lama terlupakan.
7. Proses memanggil kembali informasi : recall : memanggil kembali secara langsung informasi + recognition: presentasi sejumlah pengetahuan (knowledge) yang terkait sebagai petunjuk.
 
5. Problem Solving (Penyelesaian Masalah)
1. Setelah penyimpanan di LTM, kemudian diaplikasikan
2. Penalaran (Reasoning) : proses pengambilan kesimpulan mengenai sesuatu atau hal baru dengan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.
 
Reasoning terdiri dari :
 
1. Deduktif
-Menarik kesimpulan secara logika dari premis yang diberikan
-Jika A, maka B
– Sangat buruk untuk mengkonfirmasikan validitas dan kebenaran
 
2. Induktif
– Men-generalisasi dari kasus sebelumnya untuk belajar tentang hal baru
– Meskipun induksi mungkin tidak dapat diandalkan namun merupakan proses yang berguna Induksi mengakibatkan manusia senantiasa belajar mengenai lingkungan
 
3. Abduktif
- Penalaran dari sebuah fakta ke aksi atau kondisi yang mengakibatkan fakta tersebut terjadi
- Metode ini digunakan untuk menjelaskan event yang kita amati
- Mungkin tidak dapat diandalkan, namun manusia seringkali menerangkan sesuatu hal dengan cara seperti ini, dan mempertahankan hingga ada bukti lain yang mendukung penjelasan atau teori alternative

Referensi :
http://juwita.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/…/IMK02-Prinsip+Usability.pdf
http://search.4shared.com/q/10/interaksi%20manusia%20dan%20komputer


Minggu, 27 November 2011

TUGAS 6 - KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI


Kepemimpinan adalah lokomotif organisasi yang selalu menarik dibicarakan. Daya tarik ini didasarkan pada latar historis yang menunjukkan arti penting keberadaan seorang pemimpin dalam setiap kegiatan kelompok dan kenyataan bahwa kepemimpinan merupakan tiang dalam pola interaksi antar komponen organisasi. Lebih dari itu, kepemimpinan dan peranan pemimpin menentukan kelahiran, pertumbuhan dan kedewasaan serta kematian organisasi tersebut.



Tipe - tipe kepemimpinan


Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif.Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
  1. Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka.
  2. Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
  3. Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
 Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
  1. Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya.
  2. Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya.
  3. Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi.
  4. Menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh bawahan.
Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini kebapakan, sebagai tauladan atau panutan masyarakat. Biasanya tiokoh-toko adat, para ulama dan guru. Pemimpin ini sangat mengembangkan sikap kebersamaan.

Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.

Tipe Laissez Faire
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.




Teori Timbulnya Kepemimpinan

Di antara berbagai teori yang menjelaskan sebab-sebab timbulnya kepemimpinan terdapat tiga teori yang menonjol, yaitu :
1. Teori Keturunan (Heriditary Theory)
2. Teori Kejiwaan (Psychological Theory)
3. Teori Lingkungan (Ecological Theory)

Masing – masing teori dapat dikemukakan secara singkat :

1. Teori Keturunan
Inti daripada teori ini, ialah :
a. Leaders are born not made.
b. Seorang pemimpin menjadi pemimpin karena bakat – bakat yang dimiliki sejak dalam kandungan.
c. Seorang pemimpin lahir karena memamng ditakdirkan. Dalam situasi apapun tetap muncul menjadi pemimpin karena bakat-bakatnya.

2. Teori Kejiwaan.
a. Leaders are made and not born.
b. Merupakan kebalikan atau lawan dari teori keturunan.
c. Setiap orang bias menjadi pemimpin melalui proses pendidikan dan pengalaman yang cukup.

3. Teori Ekologis
a. Timbul sebagai reaksi terhadap teori genetis dan teori social.
b. Seseorang hanya akan berhasil menjadi seorang pemimpin, apabila pada waktu ahir telah memiliki bakat, dan bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui proses pendidikan yang teratur dan pengalaman.
c. Teori ini memanfaatkan segi-segi positif teori genetis dan teori social.
d. Teori yang mendekati kebenaran.


B. Teori Kepemimpinan Berdasarkan Sifat

Di tinjau dari segi sejarah, pemimpin atau kepemimpinan lahir sejak nenek moyang, sejak terjadinya hubungan kerjasama atau usaha bersama antara manusia yang satu dengan dengan manusia yang lain untuk menjapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Jadi kepemimpinan lahir bersama – sama timbulnya peradaban manusia.

• Machiavelli
Ia terkenal tentang nasehatnya mengenai kebijaksanaan yang harus dimiliki oleh seorang Perdana Mentri, yaitu antara lain harus mempunyai keahlian dalam :
a. Upacara – upacara ritual, kebaktian keagamaan
b. Peratuaran dan perundang – undangan
c. Pemindahan dan pengangkutan
d. Pemberian honorium/pembayaran dan kepangkatan
e. Upacara – upacara dan adat kebiasaan.
f. Pemindahan pegawai untuk menhindarkan kegagalan
g. Bertani dan pekerjaan lainnya.

• Empuh Prapanca dengan bukunya yang terkenal Negara Kertagama menyebut 15 sifat yang baik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu:
a. Wijana, sikap bijaksana
b. Mantri wira, sebagai pembela negara sejati
c. Wicaksaning naya, bijaksana dalam arti melihat masa lalu, kemampuan analisa, mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.
d. Matanggwan, mendapat kepercayaan yang tinggi dari yang dipimpinnya.
e. Satya bakti haprabu, setia dan bakati kepada atasan (loyalitas).
f. Wakjana, pandai berpidato dan berdiplomasi.
g. Sajjawopasama, tidak sombong, rendah hati, manusiawi.
h. Dhirrottsaha, bersifat rajin sungguh- sungguh kreatif dan penuh inisiatif.
i. Tan-lalana, bersifat gembira, periang.
j. Disyacitra, Jujur terbuka.
k. Tancatrisan, tidak egoistis.
l. Masihi Samastha Bhuwana, bersifat penyayang, cinta alam.
m. Ginong Pratidina, tekun menegakkan kebenaran.
n. Sumantri, sebagai abdi negara yang baik.
o. Ansyaken musuh, mampuh memusnakan setiap lawan.

• Ajaran Hasta Brata.
Hasta Bhrata (delapan pedoman pilihan) yang terdapat dalam kitab Ramayana berisi sifat - sifat positif sebagai pedoman bagi setiap pemimpin adalah :
a. Sifat matahari (surya) Yaitu:
- Menerangi dunia dan memberi kehidupan pada semua mahluk.
- Menjadi penerang selurah rakyat.
- Jujur dan rajin bekerja sehingga negara aman dan sentosa.
b. Sifat bulan (candra) yaitu:
- Memberi penerangan terhadap rakyat yang sedang dalam kegelapan (kesulitan)
- Menerangkan perasaan dan melindungi rakyat sehingga terasa tentram untuk menjalankan tugas masing- masing.
c. Sifat Bintang (kartika) yaitu:
- Menjadi pusat pandangan sumber susila dan budaya, dan menjadi suri tauladan
d. Sifat Awan yaitu :
- Dapat menciptakan kewibawaan
- Tindakan mendorong agar rakyat tetap taat.
e. Sifat Bumi yaitu:
- Ucapanya sederhana.
- Teguh, dan kokoh pendiriannya.
f. Sifat Samudera,yaitu:
- mempunyai pandangan yang luas
- membuat rakyat seia sekata.
g. Sifat Api (Agni) yaitu:
- Menghukum siapa saja yang bersalah tanpa pandang bulu.
h. Sifat Angin (Bayu) yaitu :
- terbuka dan tidak ragu – ragu terhadap semua masalah.
- Bersikap adil terhadap siapa pun.

• The Traits and abilities Theory yang dikemukakan oleh stogdill dengan menekan pada kwalitas individu dan terdapat relevansi yang erat antara sifat dan kepemimpinan (capacity, status, participation, responsibility,achievement).



C. Teori Kepemimpinan Berdasarkan Tingkah Laku

Dengan memusatkan pada ciri-ciri dan gaya yang dimiliki oleh setiap pemimpin yang bersangkutan, mereka yakin akan berhasil dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Sehingga gaya dan ciri-ciri tersebut akan menimbulkan berbagai tipe.

Ada beberapa tipe kepemimpinan.
1. Tipe Otoriter
Tipe ini mempunyai sifat-sifat:
a. Semua kebijaksanaan ditentukan oleh pemimpin
b. Organisasi dianggap milik pribadi pemimpin
c. Segala tugas dan pelaksanaannya ditentukan oleh pemimpin .
d. Kurang ada partisipasi dari bawahan .
e. Tidak menerima kritik, saran dan pendapat bawahan .

2. Tipe Demokratis
a. Semua kebijaksanaan dan keputusan dilakukan sebagai hasil diskusi dan musyawarah .
b. Kebijaksanaan yang akan dating ditentukan melalui musyawarah dan diskusi.
c. Anggota kelompok, bebas bekerjasama dengan anggota yang lain, dan berbagai tugas diserahkan kepada kelompok .
d. Kritik dan pujian bersifat objektif dan berdasarkan fakta-fakta .
e. Pemimpin ikut berpartisipasi dalam kegiatan sebagai anggota biasa .
f. Mengutamakan kerjasama .

3. Tipe Semuanya
a. Kebebasan diberikan sepenuhnya kepada kelompok atau perseorangan di dalam pengambilan kebijaksanaan maupun keputusan .
b. Pemimpin tidak terlibat dalam musyawarah kerja .
c. Kerjasama antara anggota tanpa campur tangan pemimpin .
d. Tidak ada kritik, pujian atau usaha mengatur kegiatan pemimpin .
Di samping ketiga gaya kepemimpinan diatas Sondang P.Siagian, MPA.,Ph.D. mengemukakan tipe pemimpin yang lain, ialah:

4. Tipe Militeristis
a. Lebih sering mempergunakan perintah terhadap bawahan .
b. Perintah terhadap bawahan sangat tergantung pada pangkat dan jabatan .
c. Menyenangi hal-hal yang bersifat formal .
d. Sukar menerima kritik .
e. Menggemari berbagai upacara .

5. Tipe Paternalistik
a. Bersikap melindungi bawahan .
b. Bawahan dianggap manusia yang belum dewasa .
c. Jarang ada kesempatan pada bawahan untuk mengambil inisiatif .
d. Bersikap maha tahu .

6. Tipe Karismatis
a. Mempunyai daya tarik yang besar, oleh karenanya mempunyai pengikut yang besar .
b. Daya tarik yang besar tersebut kemungkinan disebabkan adanya kekuatan gaib (supernature) .

Disamping teori yang telah dikemukakan diatas, ada teori lain yang Dikemukakan oleh W.J. Reddin dalam artikelnya yang berjudul “What Kind of Manager”.
Ada tiga pola dasar yang dapat dipakai untuk menentukan watak atau tipe seorang pemimpin. Ketiga pola dasar tersebut :
1. Berorientasi tugas (task orientation).
2. Berorientasi pada hubungan kerja (Relationship orientation).
3. Berorientasi pada hasil (effectiveness orientation).

Berdasarkan sedikit banyaknya orientasi atau penekanan ketiga hal diatas pada diri seorang pemimpin akan dapat ditentukan delapan tipe pemimpin masing-masing ialah:
1. Deserter
2. Bureaucrat
3. Missionary 
4. Developer 
5. Autocrat
6. Benevolent autocrat
7. Compromiser
8. Executive

Minggu, 22 Mei 2011

TRADISI LOKALITAS DALAM BUDAYA POLITIK JAWA

Nama    : Bayu adi prayitno
Kelas     : 1KA32
NPM      : 18110945
Tugas    : Softskill
TEMA    : BUDAYA DAN LOKALITAS


ABSTRAK
Tradisi lokalitas setiap daerah tentu saja berbeda-beda tergantung dari budaya yang di anut suatu daerah tersebut. Dalam wacana kebudayaan, sulit untuk mendefinisikan dan memberikan batasan terhadap budaya lokal atau kearifan lokal. Budaya lokal berada pada tingat culture, hal ini berdasarkan sebuah skema sosial budaya yang ada di Indonesia dimana terdiri dari masyarakat yang bersifat manajemuk dalam stuktur sosial, budaya (multikultural) maupun ekonomi.
Membahas tentang kebudayaan akan berhubungan dengan tradisi lokalitas suatu daerah, seumpamanya adalah jawa.  Budaya politik nasional, termasuk budaya berdemokrasi dan khususnya berkaitan dengan bangunan sistem kekuasaan, merupakan hasil akumulasi, agregasi dari budaya, dan sistem kekuasaan dari daerah-daerah (budaya lokal).namun, suatu hal yang tidak dapat kita pungkiri adalah, bahwa dominasi budaya Jawa, terhadap pembentukan budaya politik nasional merupakan suatu keniscayaan. Karena bukan saja kekuasaan negeri ini dikendalikan dari Jawa, tapi struktur kekuasaan yang ada pun didominasi oleh orang Jawa, sebagai akibat dari dominannya etnis Jawa secara kuantitatif.
KATA KUNCI: Kebudayaan suku bangsa (yang lebih dikenal secara umum di Indonesia dengan nama kebudayaan daerah), Kebudayaan umum lokal, Kebudayaan nasional

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat  Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya serta kekuatan lahir dan bathin kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Penulisan skripsi dengan judul “TRADISI LOKALITAS DALAM BUDAYA POLITIK JAWA” ini dimaksudkan untuk mememenuhi sebagian dari persyaratan guna menyelesaikan program sarjana (S1) pada Fakultas Ilmu komputer  Universitas Gunadarma.

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
ABSTRAK.... ............................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ...................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................
1.1 Latar Belakang Masalah.........................................................................
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................
1.3 Tujuan Penelitian....................................................................................
1.4 Manfaat Penelitian..................................................................................
1.5 Sistematika Penulisan............................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................
2.1 Landasan Teori ........................................................................................
           2.1.1 Budaya........................................................................................
           2.1.2 Budaya Nasional .......................................................................
           2.1.2.1 Subkultur Budaya ...................................................................
           2.1.2.1.1 Budaya Jawa Tengah ..............................................................

BAB II HASIL PEMBAHASAN ..........................................................
3.1 A. Tradisi Sikap Orang Jawa...........................................................................
          3.1.1 A. Sikap Halus............................................ .......................................
          3.1.2 A. Sikap Menjunjung Tinggi Ketenangan Sikap..................................
          3.1.3 A. Sikap Kebersamaan.................................................... ..................
3.2 B. Budaya Politik Jawa...................................................................................
          3.2.1 B. Hierarki.........................................................................................
          3.2.2.B. Patronage.............................................................. .......................
          3.2.3.B. Neo-Patrimonialistik............................................... .....................
BAB IV PENUTUP............................................................................
4.1 Kesimpulan ...................................................................................................
        4.1.2 Keterbatasan Penelitian......................................................................
        4.1.3 Saran ............................................................................................... .
Daftar Pustaka ...................................................................................................
Lampiran - Lampiran ..........................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Organisasi yang baik, tumbuh dan berkembang akan menitikberatkan pada sumber daya manusia (human resource) guna menjalankan fungsinya dengan optimal, khususnya menghadapi dinamika perubahan lingkungan yang terjadi. Dengan demikian kemampuan teknis, teoritis, konseptual, moral dari para pelaku
organisasi/ perubahan di semua tingkat (level) masyarakat. Sistem yang ditetapkan oleh organisasi tidak terlepas dari ikatan budaya yang diciptakan. Ikatan budaya tercipta oleh masyarakat setempat, baik dalam keluarga, organisasi, bisnis, maupun bangsa.
Budaya bertindak sebagai sumber eksternal yang mempengaruhi perilaku karyawan pada kepribadian sehari-harinya yang akibatnya mempengaruhi perilaku setiap orang dalam organisasi,karena setiap orang membawa sepotong dunia luar ke tempat kerja. Secara keseluruhan, dampak budaya masing-masing individu menciptakan perubahan dalam budaya dari organisasi itu sendiri.Budaya, sebagai pemrograman kolektif pikiran, membedakan satu kelompok atau kategori orang-orang dari yang lain (Hofstede, 2005).
Dalam konteks sosial politik dan sejarah ekologi, jenis dan pentingnya nilai ditempatkan
bervariasi dari budaya satu ke budaya lainnya. Nilai-nilai budaya memainkan peran yang signifikan dalam membentuk kebiasaan dan praktek yang terjadi dalam organisasi.
Memahami nilai-nilai budaya adalah penting dalam hal itu memfasilitasi setiap anggota tim kemampuan untuk benar mengidentifikasi, memahami dan respon terhadap perbedaan dalam berpikir, merasa dan bertindak anggota tim
yang potensial di seluruh dunia. Bagi perusahaan yang mencakup anggota bervariasi, pengetahuan budaya dan sensitivitas nilai-nilai budaya adalah sebuah kebutuhan yang harus ditangani pada praktek manajemen dan pelatihan.
Seseorang yang memiliki latar belakang yang sama cenderung memiliki kesamaan dalam banyak hal seperti cara berpikir, perasaan yang sama dan perilaku mereka sejalan dengan warisan nilai dari nenek moyang. Sebagai akibatnya, perilaku dalam negosiasi ini cukup konsisten dalam budaya, dan budaya masing-masing memiliki negosiasi sendiri gaya yang khas (Simantrias dan Thampomas, 1998). Tapi pada pola ini berbeda dengan gaya manajemen lintas budaya dan juga budaya.

1.2  Perumusan Masalah
Nilai-nilai masyarakat diilhami oleh budaya setempat dan mendarah daging
pada leluhurnya. Nilai-nilai ini juga sedikit banyak berpengaruh pada tingkah laku
yang melatarbelakangi sifat, tindakan, karakteristik pengambilan keputusan dari masyarakat setempat.

     1.3 Tujuan Penelitian 
     
     Tujuan dari penelitian ini, sesuai dengan rumusan masalah yang eliti, diantaranya adalah: 
  • Mengetahui pengaruh hubungan antara budaya nasional dengan kompetensi.
  • Mengetahui pengaruh hubungan budaya yang mendukung kemajuan organisasi.
  • Mengetahui pengaruh hubungan antara kompetensi komunikasi lintas Budaya.

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat bagi penulis yaitu sebagai bahan referensi dan memberikan kontribusi tambahan untuk mengembangkan ilmu manajemen khususnya yang berkaitan dengan Manajemen SDM. Hasil penelitian ini akan melengkapi hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan sebelumnya dan guna menambah khasanah akademik yang bermanfaat bagi banyak pihak.

1.5  Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, untuk mempermudah penguraian isinya diperlukan sistematika penulisan. Penulisan skripsi ini dibagi menjadi beberapa bab. Masing-masing bab membahas permasalahan untuk memperoleh gambaran
yang jelas dari seluruh skripsi ini. Adapun pembagian masing-masing bab secara terperinci sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan
Bab ini menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, serta sistematika penulisan.

Bab II Telaah Pusataka
Bagian ini membahas landasan teori, kerangka pemikiran teoritis, penelitian terdahulu, dan hipotesis.

Bab II Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab ini menguraikan deskripsi obyek penelitian, hasil penelitian,dan pembahasan dari analisis data.

Bab V Penutup
Bab ini menguraikan kesimpulan-kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian dan saran-saran sebagai masukan dan penelitian selanjutnya.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori

2.1.1 Budaya

Setiap kelompok masyarakat tertentu akan mempunyai cara yang berbeda
dalam menjalani kehidupannya dengan sekelompok masyarakat yang lainnya. Cara-cara menjalani kehidupan sekelompok masyarakat dapat didefinisikan sebagai budaya masyarakat tersebut. Satu definisi klasik mengenai budaya
adalah sebagai berikut: "budaya adalah seperangkat pola perilaku yang secara sosial dialirkan secara simbolis melalui bahasa dan cara-cara lain pada anggota dari masyarakat tertentu (Wallendorf & Reilly dalam Mowen, 1995). Di lain
sisi budaya menurut (Tyler dalam Mowen, 1995) merupakan “a complex whole which includes knowledge, belief, art, law, morals, customs, and any other capabilities and habits acquired by man as a member of society”.
Ada pula definisi yang menyatakan bahwa budaya adalah pola utuh prilaku manusia dan produk yang dihasilkannya yang membawa pola pikir, pola lisan, pola aksi, dan artifak, dan sangat tergantung pada kemampuan
seseorang untuk belajar, untuk menyampaikan pengetahunnya kepada generasi berikutnya melalui beragam alat, bahasa, dan pola nalar. Kedua definisi tersebut menyatakan bahwa budaya merupakan suatu kesatuan utuh yang
menyeluruh, bahwa budaya memiliki beragam aspek dan perwujudan, serta bahwa budaya dipahami melalui suatu proses belajar.
Definisi di atas menunjukkan bahwa budaya merupakan cara menjalani
hidup dari suatu masyarakat yang ditransmisikan pada anggota masyarakatnya dari generasi ke generasi berikutnya. Proses transmisi dari generasi ke generasi tersebut dalam perjalanannya mengalami berbagai proses distorsi dan penetrasi budaya lain. Hal ini dimungkinkan karena informasi dan mobilitas anggota suatu masyarakat dengan anggota masyarakat yang lainnya mengalir tanpa hambatan.
Interaksi antar anggota masyarakat yang berbeda latar belakang
budayanya semakin intens. Oleh karena itu, dalam proses transmisi budaya dari
generasi ke generasi, proses adaptasi budaya lain sangat dimungkinkan.
Misalnya proses difusi budaya populer di Indonesia terjadi sepanjang waktu.
Kita bisa melihat bagaimana remaja-remaja di Indonesia meniru dan menjalani
budaya populer dari negara-negara Barat, sehingga budaya Indonesia sudah
tidak lagi dijadikan dasar dalam bersikap dan berperilaku. Proses seperti inilah
yang disebut bahwa budaya mengalami adaptasi dan penetrasi budaya lain.
Dalam hal-hal tertentu adaptasi budaya membawa kebaikan, tetapi di sisi lain
proses adaptasi budaya luar menunjukkan adanya rasa tidak percaya diri dari
anggota masyarakat terhadap budaya sendiri.
Agar budaya terus berkembang, proses adaptasi seperti dijelaskan di atas
terus perlu dilakukan. Paradigma yang berkembang adalah bahwa budaya itu
dinamis dan dapat merupakan hasil proses belajar, sehingga budaya suatu
masyarakat tidak hadir dengan sendirinya. Proses belajar dan mempelajari
budaya sendiri dalam suatu masyarakat disebut enkulturasi (enculturati).
Enkulturasi menyebabkan budaya masyarakat tertentu akan bergerak dinamis
mengikuti perkembangan zaman. Sebaliknya sebuah masyarakat yang
cenderung sulit menerima hal-hal baru dalam masyarakat dan cenderung
mempertahankan budaya lama yang sudah tidak relevan lagi disebut sebagai
akulturasi (acculturation).
Budaya yang ada dalam sekelompok masyarakat merupakan seperangkat
aturan dan cara-cara hidup. Dengan adanya aturan dan cara hidup/ anggota
dituntun untuk menjalani kehidupan yang serasi. Masyarakat diperkenalkan
pada adanya baik-buruk, benar-salah dan adanya harapan-harapan hidup.
Dengan aturan seperti itu orang akan mempunyai pijakan bersikap dan
bertindak. Jika tindakan yang dilakukan memenuhi aturan yang telah
digariskan, maka akan timbul perasaan puas dalam dirinya dalam menjalani
kehidupan. Rasa bahagia akan juga dirasakan oleh anggota masyarakat jika dia
mampu memenuhi persyaratan-persyaratan sosialnya.
Orang akan sangat bahagia jika mampu bertindak baik menurut aturan
budayanya. Oleh karena itu, budaya merupakan sarana untuk memuaskan
kebutuhan anggota masyarakatnya. Kebudayaan, menurut (Soemardjan, 2010)
adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Mengacu pendapat
tersebut, maka karya masyarakat akan menghasilkan teknologi dan kebudayaan
yang berwujud benda, misalnya rumah, makanan, senjata, pakaian dan
sebagainya.Budaya nasional memiliki arti bahwa suatu cara bertindak tertentu lebih
disukai karena dinggap cocok dengan nilai-nilai budaya daripada yang lain.

2.1.2 Budaya Nasional

Sistem bangsa telah diperkenalakan diseluruh dunia pada pertengahan
abad ke duapuluh, diikuti dengan sistem kolonial yang telah dikembangkan
tiga abad sebelumnya. Dalam periode kolonial, kemajuan teknologi negaranegara
Eropa Barat yang hanya disebarkan pada negara-negara mereka saja,
sehingga mereka membagi seluruh territorial wilayah didunia yang tidak
memiliki kekuatan politik. Batas wilayah antara sebelum kolonial dan sesudah
kolonial ditentukan oleh para penguasa kolonial dibanding dengan penduduk
setempat. Oleh karena itu, bangsa tidak dapat disamakan dengan masyarakat.
Bentuk-bentuk asli yang telah dikembangkan organisasi sosial,
sebenarnya merupakan konsep kebudayaan umum yang berlaku untuk seluruh
masyarakat, dan bukan untuk bangsa. Namun, banyak negara yang keutuhan
historisnya dikembangkan bahkan bila dalam negara tersebut terdiri-dari
kelompok yang berbeda, mereka akan menjadi kelompok minoritas yang
kurang terintergrasi.
Dalam bangsa yang telah ada selama beberapa waktu ada kekuatan yang
kuat terhadap intergrasi secara berkelanjutan. Hal ini bisa dalam bentuk bahasa
nasional yang dominan, media massa umum, sistem pendidikan nasional,
tentara nasional, sistem politik nasional, representasi nasional di acara olahraga
dengan simbolis yang kuat dan emosional.

2.1.2.1 Subkultur Budaya

Pada penelitian Analis Pengaruh Budaya Nasional, Budaya Organisasi,
dan Kompetensi Komunikasi Lintas Budaya terhadap Kompetensi  ini responden mewakili mewakili subkultur Kota Semarang yaitu Jawa Tengah.

2.1.2.1.1 Budaya Jawa Tengah

Kebudayaan Jawa mengandung unsur-unsur yang memiliki kesamaan
dengan kebudayaan daerah lain di Indonesia, bahkan terdapat unsure-unsur
universal-nya. Penjabaran rumusan tersebut meliputi banyak unsur, seperti
adat-istiadat, sopan santun, kaidah pergaulan, kesusastraan, kesenian,
keindahan (estatika), mistik, falsafah dan apapun yang temasuk unsur
kebudayaan pada umumnya.
Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan, di Jawa Tengah bahasa
Jawa sebagai semangat untuk melestarikan kebudayaan. Semua kalangan yang
menggunakan bahasa Jawa mempunyai kepentingan agar sedikitnya bahasa
Jawa tetap berperan dalam kehidupan Jawa. Banyaknya tingkatan dalam
bahasa Jawa yang memiliki hakikatnya tersendiri, telah membuat bahasa yang
merupakan bagian dari kabudayaan yang lengkap.
Penggunaan bahasa Jawa harus diterapkan dengan tepat, karena banyak
sekali hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakannnya. Seperti kepada
siapa seorang berkomunikasi dan dalan acara apa bahasa tersebut digunakan.
Kebudayaan jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan, keserasian,
menjadi semua unsur (hidup dengan yang mati, alam dengan makhluk hidup)
harus hidup harmonis dan berdambingan (Denys, 2005).


BAB II
HASIL PEMBAHASAN

3.1 A. Tradisi Sikap Orang Jawa

3.1.1 A. Sikap Halus

Masyarakat Jawa cendrung untuk menghindarkan diri pada situasi konflik dengan pihak lain. Akan tetapi mereka juga cendrung selalu mudah tersinggung. Hal ini berkaitan dengan konsep “halus” (alus) dalam konteks Jawa, yang secara unik bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan kata subtle, smooth, refined, sensitive, polite dan civilized. Konsep ini telah ditanamkan secara intensif dalam masyarakat Jawa sejak masa kanak-kanak. Sikap “alus” ini bertujuan membentuk pola tindakan sesuai dangan norma kesopanan, yang perwujudannya berupa pembatasan emosi dan pembatasan antusiasme serta ambisi. Menyakiti dan menyinggung orang lain dipandang sebagai tindakan kasar, rough, crude, vulgar, coarse, insensitive, impolite dan uncivilized (ora njawani). Nilai-nilai semacam ini menyebabkan orang Jawa kelihatan cendrung mempunyai konsepsi tentang “diri” yang dualistis.

3.1.2 A. Sikap Menjunjung Tinggi Ketenangan Sikap

Pola ini merupakan pencerminan kehalusan jiwa yang diwujudkan dengan pengendalian diri dan pengekangan diri. Kewibawaan ini bisa tercapai dengan bersikap tenang di muka umum. Ini berarti bahwa pribadi yang berwibawa adalah pribadi yang tenang, dan dapat menjaga sikap. Sebagai seorang yang berwibawa, harus berhati-hati dalam setiap pola tingkah lakunya dan biasanya orang berwibawa akan selalu di butuhkan orang lain. Karena sikap itu sesorang terkadang membuat jarak dengan orang lain agar terlihat semakin berwibawa. Karakteristik inilah yang merupakan pola kultural bahwa tindakan dan tingkah laku akan mengakibatkan resiko tertentu. Sikap berwibawa harus didasarkan pada ketenangan jiwa bukan didasarkan pada pamrih, ketidaktulusan dan penuh emosi.

3.1.3 A. Sikap Kebersamaan

Dalam kebudayaan Jawa, kebersamaan ini secara operasional tidak sekedar dalam bentuk materialistis, tapi juga dalam aspek-aspek yang non materialistis atau yang menyangkut dimensi moral. Implikasi dimensi yang sangat luas ini ialah kaburnya hak dan kewajiban serta tanggung jawab seseorang. Sebagai contoh  Jika seseorang mempunyai hak atas sesuatu, maka dalam kerangka ini, orang lain cenderung dapat menikmati hak tersebut karena konsep kebersamaan. Pihak yang secara intrinsik mempunyai hak juga cendrung membiarkan orang lain ikut menikmatinya. Karena itu, kalau seseorang memiliki kewajiban atau tanggung jawab, maka orang tersebut cendrung ingin membagi kewajiban itu pada orang lain. Akan tetapi, takkala suatu pihak dituntut untuk mempertanggungjawabkan kewajibannya, seringkali bersikap agar pihak lain juga bersama-sama memikul tanggung jawab itu. Bahkan seluruh anggota masyarakat diinginkan agar sama-sama mengemban tanggung jawab. Masalah lainnya ialah adanya kecendrungan bahwa takkala diperingatkan (dikritik) agar bertanggung jawab, ia cendrung mengabaikan peringatan (kritik) tersebut sebab orang lain juga sama-sama melakukan kesalan. Sedemikian jauh sifat pengabaian itu sehingga sering sampai pada titik “tidak ambil pusing” karena banyak “teman”. Pada titik inilah masyarakat Jawa kelihatan kontradiktif, yakni, pada satu segi, selalu berusaha bersikap dan berlaku halus, tetapi pada segi lain sering bersikap “tidak ambil pusing” (tebal muka) terhadap kritik.
Budaya Jawa yang relatif feodal, daripada demokratis berakibat pada feodalisme kekuasaan nasional, merupakan persoalan urgen yang kita hadapi dalam rangka mewujudkan demokratisasi di Indonesia. Masyarakat dan pemimpin menikmati hak-hak dasar, seperti kebebasan berbicara, berkumpul, berorganisasi dan kebebasan pers. Baik partai politik yang lama maupun yang baru dapat berusaha untuk memperoleh dukungan. Melihat indikator ini, dapat dipahami bahwa demokrasi berkaitan erat dengan pertanggungjawaban, kompetisi, keterlibatan, dan tinggi-rendahnya kadar untuk menikmati hak-hak dasar.


3.2 B. Budaya Politik Jawa

3.2.1 B Hierarki

Masyarakat jawa pada dasarnya bersifat hierarkis karena kekuasaan itu berasal dari satu sumber maka bersifat konstan. Dan selama sumber kekuasan itu masih memberikan kekuasaan maka kekuasaan itu akan tetap legitimate dan tidak perlu di persoalkan. Stratifikasi sosial di Jawa biasanya didasarkan pada akses kekuasaan bukan didasrkan pada atribut sosial. Ada perbedaan yang sangat mencolok antara yang mempunyai kekuasaan yang di sebut kaum priyayai dengan kelompok yang tidak mempunyai kekuasaan yang di sebut wong cilik. Dari status sosial itu mempengaruhi cara berekpresi seseorang memlalui gaya bahasa dengan tingkatan bahasa kromo sampai ngoko.

3.2.2 B Patronage

Menuarut James Scott patronage adalah sebagai pola hubungan patron-client. Dalam hubungan patronage terjadi interaksi yang bersifat resiprokal atau hubungan timbal balik dengan mempertukarakan sumber daya (exchange of resources) yang dimiliki oleh masing masing pihak. Pihak patron biasanya memiliki kekuasaan, kedudukan, jabatan, perlindunan atau materi berupa kekayaan, tanah dan uang. Semantara client hanya memiliki sumber daya berupa tenaga dan loyalitas. Biasa saja dalam hubungan patronage terdapat middleman/brooker yaitu oarang yang menjadi perantara antara patron dengan client.
Budaya politik Jawa jaman dahulu yang bersifat patronage terjadi pada kalangan priyayi dari keluarga keraton. Jaman dahulu Jawa masih di jajah oleh kerajaan belanda dan bersifat sentralis, segala urusan di pegang oleh gubernur jendral. Kalangan priyayi memiliki kekuasaan, jabatan dan materi dapat menyekolahkan seseorang ke Belanda dengan bekerjasama dengan orang Belanda untuk kemudian mereka yang di sekolahkan dapat menjadi bupati pada jaman itu. Dalam terapannya setelah menjadi bupati, bupati tersebut harus mendukung kemajuan keraton.
Pada masa sekarang pun hubungan patronage seperti ini masih sering di jumpai, terlebih lagi saat pemilihan umum presiden, gubernur ataupun pemilihan bupati. Untuk menduduki kursi tertinggi suatu tempat di perlukan dukuang yang memadai dari berbagai kalangan seperti dari partai, pengusaha, tokoh-tokah dan lain sebagainya. Yang perlu di garis bawahi adalah dukungan itu tidak gratis, akan ada semacam bentuk pengembalian materi dalam bentuk pemberian kekuasaan, kebijakan ataupun proyek-proyek. Bentuk perpolitikan seperti itu tidak hanya terjadi di Jawa saja tetapi juga di daerah lain kebanyakan juga seperti itu.

3.2.3 B Neo-Patriomonialistik

Patrimonialistik yang di kemukakan Weber memiliki sejumlah karateristik. Pertama kecenderungan untuk mempertukarkan sumber daya yang dimiliki seseorang penguasa kepada teman-temanya. Kedua, kebijaksanaan sering kali lebih bersifat partikularistik daripada bersifat unifersalistik. Ketiga, rule of law merupakan sesuatu yang sifatnya sekunder bila dibangdingkan dengan kekuasaan dari seorang penguasa (rule of man). Keempat, kalangan penguasa politik sering kali mengaburkan kepentingan umum.
Karateristik seperti ini dapat kita temui secara jelas pada saat rezim orede baru, gubernur Jawa Tengah pada masa itu, Soewardi membangun rumah dinas super mewah senilai 7,5 M rupiah. Kemudian proyek kuningisasi semua instansi sampai pohon-pohon di pinggir jalan. Demikian juga promosi jabatan, seseoarang camat yang telah memenangi golkar melebihi target akan mendapat promosi jabatan.
Sekiranya hal hal tersebut adalah yang terjadi pada masa itu. Pada masa sekarang keadaan budaya perpolitikan di Jawa sudah lebih baik seiring  dimulainya pelaksanaan otonomi daerah dengan pengelolaan manajemen yang berorientasi good governance.  Pengelolaan manajeman daerah meliputi aspek perencanaan, pemrogaman, penganggaran, pelaksanaan, pengendalian, pengawasan dan pengendalian. Untuk mewujudkannya harus  di dukung dengan pemerintahan yang reinventing goverment yaitu salah satunya adanya partisipasi masyarakat dalam pembangunan.


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

4.1.2 Keterbatasan Penelitian

Untuk menghadapi tantangan masa depan, khususnya menyongsong era globalisasi dalam milenium ketiga, diperlukan beberapa kesiapan yang menyeluruh pada berbagai aspek pembangunan. Berpijak pada Undang-undang tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang tentang Pembagian Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, kesiapan daerah (Propinsi dan Kabupaten/Kota) dalam menghadapi tantangan tersebut menjadi sangat penting dalam keseluruhan kesiapan nasional.
Beberapa kendala yang dihadapi dalam pembangunan di Jawa Tengah antara lain ialah lemahnya sumber daya manusia (SDM) dalam pelaksanaan pembangunan, perencanaan pembangunan yang kurang terfokus pada potensi unggulan yang ada dan kebutuhan yang mendesak, serta masih kurangnya pendayagunaan pakar keilmuan dan hasil kajian keilmuan.
Sementara itu, pelaksanaan penelitian dan pengkajian keilmuan di daerah belum terfokus dan belum merupakan kerja budaya yang diacukan pada kebutuhan pembangunan di daerah. Lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan belum cukup berdaya dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Kesemuanya disebabkan belum adanya sistem penelitian dan pengembangan daerah yang baku, yang secara jelas memberikan visi, misi dan strategi penelitian dan pengembangan. Secara teknis keterbatasan sumber daya merupakan masalah yang laten bagi pelaksanaan upaya tersebut. Keadaan-keadaan tersebut bermuara pada pengambilan kebijakan pembangunan yang tidak didasarkan atas pertimbangan ilmiah.

4.1.3 Saran

Membantu Pemerintah Daerah di Tingkat Propinsi dan Kabupaten/ Kota serta bekerja sama dengan segenap mitra :

Perumusan kebijakan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat diterapkan dalam pembangunan di Jawa Tengah demi kemandirian kesejahteraan masyarakat;
Konsultasi dan advokasi ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pemerintah dan masyarakat dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi pembangunan.

Daftar Pustaka

Andriana, Deni. 2010.  Budaya Lokal, Definisi dan Ruang Lingkupnya.http://goyangkarawang.com. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2010
Djohan Djohermansyah. 1990. Problematik Pemerintahan dan Politik Lokal. Bumi Aksara. Jakarta
Gaffar, Afan. 2000. Politik Indonesia. Pustka Pelajar. Yogyakarta
Gunawan.2007.Dominasi Kebudayaan Jawa dalam Penerapan Politik Indonesia.
http://grelovejogja.wordpress.com. Di akses pada tanggal 18 Oktober 2010
Kansil. 2004. Pemerintahan Daerah Indonesia. Sinar Grafika Offset. Jakarta
Koentjaraningrat. 1979. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Djambatan. Jakarta
Mardiasmo. 2004. Otonomi dan Manajeman Keuangan Daerah. Andi. Jawa Tengah- Semarang.